Sorrow at Your Eyes (Part 1)

Posted: 4 Desember 2011 in Taelli
taelli

taelli cople

Title                : Sorrow at Your Eyes

Author           : Layla Noer Andiena

Main cast       : Choi Jinri, Lee Taemin

Genre             : Romance/Hurt/Comfort

Rating              : PG 13+

Length           : Chaptered

Hello hello *ala SHINee*

Ketemu sama saya lagi, si author narsis nan gaje…

Pada kesempatan kali ini, saya akan membawakan sebuah fanfic Taelli *lagi*

Semoga semuanya pada suka… Dan satu lagi. Saya minta maaf atas foto diatas *nunjuk2* Sumpah, fotonya jelek banget. Maklum, saya nggak terlalu pinter ngedir foto. Itu aja saya ngeditnya pake Picasa… Ya udahlah. Yang penting ada gambarnya…

NOT FOR PLAGIATORS AND SILENT READERS!!

Sorrow at Your Eyes

 

Normal POV

“Aku tidak bisa datang hari ini, Nyonya Soo.”

Sulli mengetukkan jarinya di atas meja. Ia mengembuskan napasnya dengan cukup keras. “Aku benar-benar tidak bisa datang.” Sulli mendengarkan lawan bicaranya di telepon dengan seksama. Ia menghela napas.

“Baiklah. Aku akan kesana,” katanya.

Sulli menyambar tasnya dengan keras dan berjalan keluar dari cafè. Ia sedang merasa kesal dengan Nyonya Soo, bos-nya. Barusan Nyonya Soo menyuruhnya untuk datang ke tokonya. Sulli memang bekerja di toko kue milik Nyonya Soo. Tapi ia seharusnya libur hari ini. Ia sangat lelah setelah seharian tadi mengerjakan tugas kuliahnya dan ia ingin menghabiskan sisa liburnya untuk beristirahat.

“Kenapa aku harus bekerja pada seseorang seperti Hitler?! Tahukah ia kalau aku sedang capek karena tugas-tugas sialan yang menumpuk itu?!” Sulli menghela napas. Ia harus sabar jika menghadapi seorang janda tua yang cerewet seperti Nyonya Soo.

Setelah lima belas menit berjalan menyusuri trotoar, Sulli sampai di depan sebuah toko kue. Ia masuk ke dalam toko kue itu.

“Nona Sulli,” kata Nyonya Soo dengan nada tinggi ketika melihat Sulli masuk. “Kenapa kau baru datang? Tahukah kau aku sedang kerepotan melayani pesanan kue yang menumpuk itu? Cepat kau pergi ke dapur sekarang.”

Tanpa bicara, Sulli masuk ke dapur dengan bibir manyun dan muka masam.

“Dimarahi Hitler lagi?”

Sulli melepas jaketnya dan mencantolkannya di tempat gantungan baju. “Begitulah, Victoria onnie.” Victoria terkikik pelan.

“Kau harus sabar menghadapi wanita seperti beliau,” kata Victoria bijak.

Sulli mendesah. “Aku tahu itu.” Ia mengambil sebungkus tepung terigu berukuran besar dan menuangkannya ke dalam mangkuk berukuran sedang. “Tapi aku benar-benar tidak tahu mengapa Tuan Jeung-yon bisa tahan bersekutu dengan Nyonya Soo.” Yang dimaksud dengan ‘sekutu Nyonya Soo’ adalah Tuan Kang Jeung-yon, rekan bisnis Nyonya Soo.

“Aku rasa karena dia Mussolini,” gurau Victoria.

“Hahaha.” Sulli hanya tertawa datar.

“Bagaimana dengan kuliahmu?” Victoria berusaha untuk mengalihkan topik.

“Biasalah. Tugas makin menumpuk,” jawab Sulli sambil mengaduk adonan yang sedang dibuatnya.

“Kau ini enak ya. Bisa mendapat beasiswa dan melanjutkan kuliah,” kata Victoria. “Aku iri lho.”

Sulli tertawa. “Onnie harus rajin mengirimkan permohonan beasiswa. Bukankah aku sering mengatakan itu pada onnie? Aku mendapat beasiswa karena aku mengirimkan permohonan beasiswa lewat internet.”

Victoria tersenyum. “Iya. Aku tahu itu. Aku berterima kasih atas saranmu. Tapi sepertinya aku tidak akan melanjutkan kuliah,” Victoria berjalan menuju lemari dan mengambil beberapa peralatan lalu melanjutkan, “Keluargaku sedang menghadapi krisis ekonomi dan mereka membutuhkanku sebagai tulang punggung keluarga. Aku tidak punya waktu dan uang untuk kuliah.”

Sulli hanya tersenyum melihat sunbae-nya. Ia sangat bersyukur ia bisa punya kesempatan untuk melanjutkan kuliah.

$#@#$

Sulli mengelus punggungnya yang terasa sakit.

‘Kenapa aku bisa punya majikan seperti Hitler? Mengapa majikanku tidak seperti Mahatma Gandhi atau Nelson Mandela?’ Sepanjang perjalanan, ia terus mengomel seperti itu.

Sulli berjalan menyusuri jalanan yang sepi dan agak gelap. Hatinya agak was-was jika memikirkan berita tentang pemerkosaan yang banyak di siarkan di Korea akhir-akhir ini. Ia mempercepat langkahnya ketika mendengar suara gumaman seseorang. Akhirnya ia lari ketika mendengar langkah kaki orang itu.

“Hei! Tunggu!”

Sulli tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Dengan napas ngos-ngosan, ia terus berlari walaupun dadanya terasa sakit.

“Hei! Ini aku,” kata orang itu sambil menahan tangan Sulli yang berhasil ia susul.

Sulli berbalik. “Seunghyun oppa!”

Seunghyun hanya nyengir lebar melihat tatapan panik yang langsung hilang dan digantikan dengan tatapan sebal. “Kenapa kau mengendap-endap seperti itu?”

Seunghyun tertawa. “Kau tahu? Kau itu terlalu paranoid, Sulli.”

“Aku tidak paranoid,” kata Sulli kesal.

“Baiklah. Kau tidak paranoid. Hanya… sedikit berlebihan.”

Sulli memukul bahu Seunghyun pelan. Seunghyun hanya tertawa. “Omong-omong kenapa sekarang baru pulang?” Seunghyun melirik jam tangannya. “Hampir jam sebelas.”

“Pesanan kali ini meningkat drastis dan kami sempat kewalahan menghadapi pesanan,” jawab Sulli. Ia tidak mau menceritakan tentang Nyonya Soo. “Aku dan pekerja lain terpaksa lembur untuk memenuhi pesanan.” Sulli menatap Seung hyun. “Lalu kenapa kau ada disini?”

“Aku keluar untuk membeli minuman di minimarket. Tapi mini market-nya sudah tutup.”

“Oh,” kata Sulli singkat. Ia menatap langit malam yang makin gelap. “Aku harus pulang sekarang, Oppa. Jika aku tidak sampai di rumah 10 menit lagi, aku bisa dimarahi umma.”

“Kau mau kuantar?” tanya Seunghyun.

Sulli menggeleng. “Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

Seunghyun menatap Sulli ragu. “Kau yakin?”

“Ya,” jawab Sulli. “Selamat malam.” Sulli segera pergi meninggalkan Seunghyun sambil melambaikan tangannya. “Dah.”

“Hati-hati.”

Sulli mempercepat langkahnya karena hari sudah semakin malam dan udara semakin dingin. Ia merapatkan jaketnya dan mulai menggigil. Hari semakin gelap dan Sulli mulai meragukan jawabannya agar tidak diantar oleh Seunghyun.

Dasar bodoh. Kenapa kau tidak mau diantar oleh Seunghyun oppa? Ahh… tapi aku tidak mau merepotkannya. Sulli mengalami pergolakan batin.

Seunghyun adalah teman Sulli. Ia bertemu dengan Seunghyun ketika ia tidak sengaja menabrak Seunghyun dengan sepedanya. Sekarang Sulli berumur 20 tahun. Itu artinya ia berteman dengan Seunghyun sudah hampir 10 tahun. Hmm. Cukup lama juga.

Sulli merasa nyaman jika ia berada di dekat Seunghyun. Seunghyun selalu membantunya dan melindunginya ketika ada masalah. Pernah suatu kali, Sulli diganggu oleh sekelompok berandalan. Tiba-tiba Seunghyun datang dan menghajar berandalan itu satu persatu. Sulli bersyukur ia bisa mendapat teman seperti Seunghyun. Seunghyun selalu tersenyum dan bersikap ramah padanya. Ia tidak tahu kenapa Seunghyun begitu peduli padanya. Ia juga tidak tahu apa yang Seunghyun rasakan padanya. Sulli hanya merasa Seunghyun seperti kakak laki-laki baginya.

$@#@$

Sinar matahari menerobos masuk dan membuat kepala Sulli pusing.

Ya Tuhan… Jam berapa sekarang?

Sulli melirik jam wekernya. Jam 7 lewat 13 menit. Kenapa wekernya tidak bunyi? Pikirnya. Ia bergegas bangun dan berlari menuju kamar mandi. Dua menit kemudian ia kembali dan langsung memakai baju dengan sangat cepat.

Hari ini Sulli ada ujian semester di kampusnya. Ujian ini sangat penting karena jika ia tidak lulus, ia harus mengulang semester sebelumnya. Jerih payahnya akan sia-sia selama ini. Sulli berlari menuruni tangga dan sempat tersandung sebelum akhirnya ia berdiri tegak di ruang makan.

“Anneyeong Appa, Umma,” sapa Sulli. Ia menyambar setangkup roti dan langsung memakannya.

Tuan Choi memandang anaknya dengan tatapan heran. “Tumben buru-buru sekali. Ada apa?”

“Uhhjhiyaannn zemmestter,” jawab Sulli dengan mulut penuh roti.

“Jangan berbicara sambil makan,” tegur Nyonya Choi pada Sulli.

Tuan Choi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sudah ya, Umma, Appa. Aku harus berangkat sekarang. Anneyeong!” Sulli berlari keluar rumah dan mengejar bus.

Tuan Choi kembali membaca koran yang ia pegang.

“Apa kau akan bilang pada Sulli?” tanya Nyonya Choi.

Tuan Choi mendongakkan kepalanya. “Soal apa?”

“Soal hutang kita dan masalah kita pada keluarga Lee.”

Setelah mendengar jawaban Nyonya Choi, Tuan Choi terdiam. Ia berpikir sejenak. “Tentu saja aku akan bilang padanya.”

“Kapan?” tanya Nyonya Choi tidak sabar.

“Secepatnya,” jawab Tuan Choi. “Mungkin nanti setelah ia pulang kuliah atau besok.”

Nyonya Choi memandangi suaminya sambil membereskan piring-piring yang ada di meja. “Kau harus menceritakannya pada Sulli-ah. Bagaimanapun, masalah ini telah menyeret namanya.”

“Aku tahu. Kau jangan khawatir. Aku akan menceritakannya pada Sulli-ah.”

$@#@$

Ujian kali ini berlangsung dengan sangat lancar. Kebetulan tadi soalnya mudah sehingga Sulli bisa mengerjakannya. Sulli melangkahkan kakinya dengan perasaan ringan. Ia yakin ujian kali ini ia akan mendapatkan nilai yang baik. Ia sudah belajar dengan keras supaya bisa lulus. Sulli membayangkan dirinya ketika ia sudah lulus kuliah dan menjadi seorang dokter yang sukses. Ya. Sulli ingin sekali menjadi seorang dokter. Itu adalah impian yang sudah lama diimpikannya.

Ketika ia lolos menjadi penerima beasiswa, ia sangat senang. Ia menerima beasiswa itu setelah melalui tes yang sangat sulit dan wawancara dengan calon dosen-nya. Sulli merasa ia tidak akan mendapatkan beasiswa itu karena ia bukanlah anak yang sangat cerdas. Sulli memang pintar, tapi ia merasa kepintarannya itu adalah hal yang biasa saja. Tidak ada istimewanya.

Tinnn tinnn!!

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Sulli. Ia segera berlari menghindari mobil yang tadi mengklaksoninya.

“Hati-hati kalau jalan!” teriak orang yang mengendarainya mobil itu.

Sulli menatap mobil yang tadi akan menabraknya dengan tatapan kesal. “Hei! Jangan salahkan orang lain! Salahmu tadi tidak melihatku sedang menyebrang jalan!” teriaknya meskipun mobil itu menjauh. Sulli mendecakkan lidah. Dasar orang buta, batin Sulli. Apa dia tidak melihat kalau aku sedang menyebrang jalan?

Sulli kembali melakukan perjalanannya menuju rumah. Dengan sekuat hati, ia berusaha untuk melupakan kejadian tadi.

Ketika sampai di depan rumahnya, betapa kagetnya Sulli ketika ia melihat sebuah mobil hitam mengkilat parkir di depan rumahnya.

Wow. Ini Porsche tipe terbaru, gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan keluarlah seorang laki-laki paruh baya bersama ayah dan ibunya. Laki-laki itu memakai jas hitam dan celana hitam yang kelihatan mahal.

“Kami akan membicarakan hal itu pada putri kami,” kata Tuan Choi.

Sulli terlonjak kaget. Kenapa namanya ikut disebut-sebut?

“Ya. Saya mengerti kenapa ini menjadi keputusan yang sulit bagi Anda,” kata laki-laki paruh baya itu. Pria itu tiba-tiba menatap Sulli. “Itu anak Anda?”

Tuan Choi mengangguk. “Ya. Itu putri saya, Sulli.”

“Dia yeoja yang cantik. Cocok sekali dengan anak saya.” Pria itu kembali menatap ayah Sulli.

“Saya harap anak Anda mau dengan putri saya,” kata Tuan Choi.

“Saya juga berharap begitu. Nah, Tuan Choi. Saya masih banyak urusan yang harus saya kerjakan. Saya permisi dulu.” Pria itu berpamitan pada orang tua Sulli dan berjalan menuju mobilnya. Ia tersenyum pada Sulli ketika ia melewati Sulli.

Sulli segera menghampiri kedua orang tuanya.

“Siapa dia?” tanyanya sambil menunjuk mobil Porsche hitam yang telah pergi.

“Itu Tuan Lee,” jawab Nyonya Choi.

Sulli mengangkat alisnya. Tuan Lee? Siapa dia? Apa dia teman Appa? “Lalu kenapa tadi kalian membicarakan aku? Ada apa?”

Tuan Choi dan Nyonya Choi berpandangan. Lalu Tuan Choi berganti menatap wajah Sulli. Ia mengusap wajahnya.

“Ayo, Sulli-ah. Ada yang Appa ingin bicarakan padamu.”

$#@#$

“Sebenarnya ada apa sih?” tanya Sulli sambil memandang wajah kedua orang tuanya secara bergantian.

Nyonya Choi menatap wajah suaminya. Ia menunggu suaminya berbicara.

“Jadi begini,” Tuan Choi berusaha berbicara dengan santai. “Kau tahu ‘kan kalau Appa punya hutang dengan Tuan Lee?”

Sulli mengangkat alisnya. Yang dimaksud dengan Tuan Lee adalah pria yang tadi? Pikir Sulli. “Iya. Appa pernah menceritakannya padaku.”

“Tuan Lee sudah banyak membantu keluarga kita, terutama dalam masalah keuangan. Pekerjaan appa sebagai seorang guru tidak cukup untuk membiayai sekolahmu, Sulli-ah. Appa sering meminjam uang pada Tuan Lee. Untungnya Tuan Lee adalah orang yang baik dan mau membantu kita. Tanpa dia, kau tidak bisa melanjutkan sekolahmu sampai ke perguruan tinggi.” Tuan Choi memandangi anaknya. “Appa ingin sekali membalas kebaikan Tuan Lee dengan membayar hutang-hutang Appa. Tapi Appa tidak punya uang yang cukup dan tabungan Appa sudah hampir habis. Satu-satunya cara agar Appa dapat melunasi hutang Appa adalah menjodohkanmu dengan anak Tuan Lee.”

Bagai petir di siang bolong. Sulli terlonjak kaget melihat perkataan appa-nya. Apa ayahnya serius mau menjodohkannya dengan anak Tuan Lee?

“Appa bercanda ‘kan?” tanya Sulli.

“Appa serius, Sulli-ah.”

“Tapi bagaimana dengan kuliahku?”

Tuan Choi menghela napas. “Kau harus berhenti kuliah, Sulli-ah.”

Sulli hampir saja berteriak ketika mendengar jawaban ayahnya. “Hah!? Aku harus berhenti kuliah!? Appa, aku mendapatkan beasiswa itu dengan susah payah. Aku tidak bisa berhenti kuliah sekarang.”

“Appa tahu perasaanmu. Tapi tidak ada jalan lain selain kau berhenti kuliah dan menikah dengan anak Tuan Lee,” kata Tuan Choi.

Mata Sulli berkaca-kaca. “Aku tidak keberatan jika aku dijodohkan. Tapi, jika aku harus berhenti kuliah…” Sulli berhenti berbicara. Air mata turun dari matanya. “Aku tidak bisa Appa. Appa tahu sendiri ‘kan apa impianku?” Sulli menatap ayahnya. “Impianku adalah ingin menjadi seorang dokter. Dan itu tidak bisa dicapai jika aku tidak kuliah.”

“Appa tahu semua itu. Appa tahu kalau kau terus berjuang untuk meraih impianmu, Sulli-ah. Appa juga berat untuk mengatakan hal ini padamu. Tapi nasib kita berada pada perjodohan itu.”

Air mata Sulli terus mengalir. Apakah ia harus merelakan semua perjuangannya pergi dengan sia-sia? Ia sudah bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah. Tapi kini ia harus merelakan perjuangannya hanya karena dijodohkan dengan pria yang bahkan tidak dikenalnya. Sulli tidak peduli jika ia dijodohkan dengan anak Tuan Lee. Ia hanya peduli pada nasib pendidikannya. Impian untuk menjadi seorang dokter dan menjadi kebanggaan orangtua harus ia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya.

“Tuan Lee tidak pernah memaksa appa untuk melunasi hutang-hutang itu segera,” kata Tuan Choi. “Tapi appa tidak mau terus membebani keluarga kita dengan hutang yang sangat banyak. Gaji appa sebagai guru tidak cukup untuk melunasi hutang. Ibumu pun sudah tidak kuat menjahit lagi karena sudah tua. Satu-satunya cara agar appa dapat melunasi hutang adalah dengan menjodohkanmu. Sulli-ah, kuharap kau mengerti…”

Sulli bangkit dan berlari menuju kamarnya. Ia membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia terus menangis tanpa henti.

“Sulli-ah. Appa ingin bicara padamu. Buka pintunya,” teriak Tuan Choi dari luar.

“Sudahlah. Jika Sulli tidak mau, jangan dipaksakan.” Sayup-sayup terdengar suara Nyonya Choi.

Tuan Choi akhirnya menyerah. “Baiklah Sulli. Jika kau tidak mau, kau tidak jadi kujodohkan dengan anak Tuan Lee.” Tuan Choi menatap wajah istrinya. “Aku harus membuka lels privat agar dapat membayar hutang kita pada Tuan Lee.”

“Aku juga akan menjahit lagi untuk membantumu, suamiku,” kata Nyonya Choi.

Tuan Choi dan Nyonya Choi pergi menuju ruang keluarga. Sulli hanya tertegun mendengar perkataan ayah dan ibunya di luar tadi. Apa ia tega membiarkan ayah dan ibunya yang sudah tua untuk bekerja? Ayah Sulli sudah tua dan jantungnya sering kumat jika ia sedang lelah. Begitu pula dengan ibunya. Nyonya Choi sudah lama menderita penyakit asma. Mereka berdua sudah tua dan sering sakit-sakitan. Apakah Sulli berani berbuat begitu?

Ia mulai berpikir.  Sebagai seorang anak, yang harus dilakukannya adalah berbakti kepada orang tua dan berusaha membahagiakan mereka. Sulli ingin membahagiakan orang tuanya dengan cara menjadi seorang dokter. Tapi cita-cita itu terganjal dengan hutang-hutang ayahnya yang menumpuk. Sulli tahu kalau ayahnya sering meminjam uang pada Tuan Lee untuk membiayai pendidikannya sewaktu ia masuk SMP. Saat itu Sulli masuk ke SMP favorit dan biaya pendidikannya sangat besar. Sulli sangat ingin bersekolah disana dan ayahnya tidak tega untuk memindahkan Sulli ke sekolah lain hanya karena masalah biaya. Betapa besar pengorbanan ayahnya.

Jika memikirkan semua itu, akibatnya akan berujung pada masalah perjodohan tadi. Meskipun Tuan Lee tidak memaksa ayah Sulli untuk membayar hutangnya segera, lambat laun ia pasti akan menagih hutang ayahnya. Dan satu-satunya cara agar keluarga terbebas dari hutang itu adalah ia harus dijodohkan dengan anak Tuan Lee.

Sulli tahu keputusannya akan berdampak pada nasib keluarganya kelak.

$#@#$

Tuan Choi duduk bersila sambil menyeruput teh hangat. Di tangannya terdapat koran. Matanya terus menyulusuri setiap kata, berharap ada orang yang memasang iklan dan membutuhkan jasa guru privat.

“Appa, aku ingin bicara denganmu.”

Tuan Choi mengangkat matanya dari koran yang sedang ia baca.. Dilihatnya Sulli berdiri dihadapannya. Wajahnya kelihatan depresi dan matanya sembab.

“Ada apa Sulli-ah?” tanya Tuan Choi.

Sulli duduk tepat di depan ayahnya. “Aku ingin membicarakan sesuatu.”

“Tentang?”

Sulli menelan ludahnya. “Tentang perjodohan itu.”

“Sudah kukatakan padamu. Jika kau tidak mau dijodohkan dengan anak Tuan Lee, tidak apa-apa…”

“Bukan itu,” potong Sulli cepat. “Aku sudah memikirkan tentang perjodohan itu. Dan aku setuju untuk dijodohkan dengan anak Tuan Lee.”

Tuan Choi terlonjak kaget. “Apa?! Kau serius?”

Sulli mengangguk. ‘Hanya ini satu-satunya cara agar aku dapat membahagiakan kalian,’ batin Sulli.

“Syukurlah Sulli! Appa lega akhirnya kau menyetujui perjodohan ini. Bu… Bu! Cepat kesini!”

Nyonya Choi datang dengan tergesa-gesa. “Ada apa?”

“Sulli setuju dengan perjodohan itu,” jawab Tuan Choi dengan gembira.

“Jeongmal!?” Nyonya Choi menatap Sulli. “Syukurlah kalau begitu. Akhirnya hutang kita pada Tuan Lee dapat terlunasi.”

Sulli mencoba untuk tersenyum kepada orangtuanya meski hatinya tidak rela.

$#@#$

“Pernikahanmu akan diadakan minggu depan.”

Sulli tersedak mendengar perkataan ayahnya.

“Mwo?! Kenapa mendadak sekali?”

Tuan Choi mengangkat bahunya. “Appa juga tidak tahu kenapa. Tuan Lee yang bilang pada Appa kemarin.” Tuan Choi memperhatikan anaknya yang diam saja. “Kau kenapa Sulli?”

“Aku tidak apa-apa,” jawab Sulli cepat. “Aku hanya kaget dengan pernikahan itu.”

“Tidak heran jika kau kaget,” kata Nyonya Choi tiba-tiba. “Umma juga kaget ketika mendengar kau akan menikah minggu depan.”

Sulli memanyunkan (bahasa apa ini??!!) bibirnya. “Tapi ‘kan aku belum pernah melihat seperti apa anak Tuan Lee,” kata Sulli.

“Tenang saja. Tuan Lee  sudah mengatur pertemuan kalian. Rencananya, kalian akan bertemu besok di rumah keluarga Lee,” kata Tuan Choi.

“Jinjja? Apakah dia tampan?” tanya Sulli penasaran.

“Ya. Dia tampan.”

“Asyik. Setidaknya dia tampan,” kata Sulli sambil tersenyum. Ia berusaha tersenyum hari ini meski hatinya masih sama seperti kemarin. Tuan dan Nyonya Choi hanya tersenyum melihat anaknya.

$#@#$

Sulli duduk terdiam di kamarnya. Pikirannya berseliweran kemana-kemana. Mulai dari kuliahnya, teman-temannya, lalu belok ke chingu kesayangannya, Victoria. Setelah itu pindah lagi ke Nyonya Soo—ia bahkan berharap bisa tetap bekerja padanya daripada berhenti kuliah—dan berhenti pada perjodohan antara dirinya dan anak tuan Lee. Ia tidak menyangka hidupnya akan seperti ini. Sulli tahu ini bukanlah akhir dari hidupnya. Tapi ia juga tahu tidak ada lagi harapan untuk meraih impian yang telah menghias kehidupannya selama ini.

Seharusnya semua ini tidak terjadi padaku…

Sulli tidak menyalahkan ayahnya atas perjodohan itu dan putus kuliahnya. Ayahnya hanya berusaha untuk membantu dirinya meraih impiannya. Ia  tahu ayahnya terpaksa menyuruhnya untuk berhenti kuliah karena hutang-hutang itu. Ia tahu ayahnya sangat menyayanginya. Sulli hanya berusaha untuk tegar dan menerima semuanya. Ia berharap calon suaminya nanti adalah pria yang baik dan mengerti akan dirinya.

Ia juga berusaha untuk melupakan kuliahnya. Ia mencoba untuk menerima semuanya. Ia sudah mampu menerima perjodohan itu. Tetapi soal pendidikannya, ia rasa ia tidak bisa menerimanya. Bukan tidak. Belum. Ya, hanya belum. Ia hanya belum bisa menerima soal pendidikannya.

Sulli menghela napas. Ia mencoba tersenyum.

Ayo Sulli! Jangan biarkan dirimu patah semangat. Hwaiting!!

$#@#$

“Sulli… Cepatlah kau keluar,” teriak Nyonya Choi dari luar.

“Ya, Umma.”

Sulli segera menata rambutnya yang masih berantakan. Ia asal-asalan menyisir rambutnya. Setelah rambutnya tertata—walaupun asal-asalan—Sulli segera turun ke bawah untuk menemui ayah dan ibunya yang telah menunggu.

“Omo! Kau cantik sekali Sulli-ah!” seru Nyonya Choi begitu melihat Sulli.

Sulli hanya tersenyum mendengar perkataan ibunya. Hari ini ia memakai dress berwarna hijau muda. Rambut panjangnya tergerai bebas *bayangin aja penampilan Sulli yang di Hot Summer*

“Gomawo Umma,” kata Sulli.

“Lebih baik kita berangkat sekarang,” kata Tuan Choi.

“Ayo.”

$#@#$

Setelah menempuh perjalanan panjang dan membosankan, akhirnya Sulli beserta orangtuanya sampai di sebuah rumah mewah. Sulli menatap rumah itu dengan pandangan kagum.

Wow, batinnya. Besar sekali rumahnya.

Orang tua Sulli berdiri di depan pintu dan menekan bel. Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang dan membukakan pintu.

“Mari masuk. Tuan Lee beserta keluarga telah menunggu kalian,” kata pelayan itu.

Mereka bertiga masuk dengan dipandu oleh pelayan tadi. Sulli tidak berhenti menatap bagian dalam rumah itu. Rumah keluarga Lee sangatlah mewah dan luas. Terdapat banyak perabot mengkilap dan kelihatan mahal yang dipajang di sana-sini. Pantas saja ayahnya sering meminjam uang pada Tuan Lee.

Sulli sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Ia melihat pria paruh baya yang ia lihat kemarin di rumahnya. Itu adalah Tuan Lee. Ia sedang duduk bersama seorang wanita yang seumuran dengannya. Kelihatannya itu istrinya.

“Selamat datang di rumah saya, Tuan Choi,” kata Tuan Lee sambil berdiri. Istrinya berdiri lalu  membungkukkan badan. “Maaf membuat Anda menunggu lama. Silahkan duduk.”

Sulli dan orang tuanya duduk di sofa.

“Saya sangat senang akhirnya putri Anda menyetujui perjodohan itu,” kata Tuan Lee. “Maaf jika Anda menganggap saya terlalu memaksa.”

“Tidak Tuan Lee,” Ayah Sulli menggelengkan kepalanya. “Justru saya merasa sangat terbantu dengan perjodohan itu. Anda sangat baik telah memberikan kesempatan untuk saya untuk membayar semua hutang-hutang itu walaupun pada akhirnya saya tidak dapat melunasinya dengan uang.”

“Saya sangat senang dapat membantu Anda.” Tuan Lee mengalihkan pandangannya ke Sulli. “Halo Sulli. Bagaimana kabarmu?”

“Saya baik-baik saja,” jawab Sulli sambil tersenyum. Ia agak gugup saat bertemu err… calon mertuanya.

“Jadi ini yang namanya Sulli?” tanya Nyonya Lee sambil memandang Sulli. “Wah… Ternyata cantik ya.”

Wajah Sulli memerah. “Te… terima kasih.”

“Kau pasti ingin bertemu dengan anak kami, Sulli. Tentu saja. Dia ‘kan calon suamimu. Tapi aku harus bilang padamu beberapa hal. Anak kami agak pendiam. Mungkin kau tidak akan menyukainya saat pertama kali bertemu. Tapi sejujurnya, dia sangatlah baik,” kata Tuan Lee.

Sulli hanya mengangguk.

“Baiklah,” Tuan Lee berkata dengan penuh semangat. “Pelayan! Panggil Taemin ke sini!”

“Baik, Tuan,” sahut si pelayan.

Sulli merasa sangat gugup sekarang. Ia akan bertemu calon suaminya. Bagaimana rupa suaminya? Apakah dia tampan seperti yang dikatakan ayahnya? Apakah ia baik seperti kata Tuan Lee? Semoga saja iya.

Beberapa menit kemudian munculah seorang namja. Ia tinggi, berkulit putih dan berwajah tampan. Ia menatap Sulli dengan tatapan dingin.

Tatapan macam apa itu? Pikir Sulli. Tatapannya seperti penuh dengan kebencian.

“Perkenalkan. Ini anak kami, Taemin.”

Taemin membungkukkan badannya 90 derajat. “Lee Taemin imnida. Biasa dipanggil Taemin.” Wajahnnya masih tetap sama, dingin seperti es.

Well, saya rasa kami semua harus meninggalkan kalian berdua untuk yah… mengenal satu sama lain. Mari, Tuan dan Nyonya Choi.” Orang tua Sulli, Tuan Lee dan Nyonya Lee keluar dari ruangan itu. Tinggallah Sulli dan Taemin sendirian.

Sulli merasa canggung. Bagaimana caranya memulai percakapan jika Taemin menatapnya dengan tatapan dingin seperti itu?

“Ehm… perkenalkan, namaku Choi Sulli,” kata Sulli sambil tersenyum. Ia menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

“Aku Taemin. Senang berkenalan denganmu,” balas Taemin dingin. Ia masih saja menatap Sulli dengan tatapan dingin. Tiba-tiba ia berjalan menjauhi Sulli. “Dengar,” kata Taemin tanpa menolehkan tatapannya. “Aku sama sekali tidak peduli denganmu atau perjodohan itu. Mungkin bagimu aku adalah orang yang tidak menyenangkan. Tapi itu resikomu karena mau menikah denganku.” Setelah berkata seperti itu, Taemin keluar ruangan dan meninggalkan Sulli sendirian.

Sulli berdiri mematung setelah mendengar perkataan Taemin.

Ya Tuhan… Apa aku harus menikah dengan namja seperti dia?

Komentar
  1. park hyun young mengatakan:

    bagus^^
    .Wh.. tetem kok angkuh gitu, kn sulli jdi sedih😦
    cpt lnjut y’ jgn bwt pnsrn!…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s